Peradaban Barat Modern dan Pax Judaica

Zionisme lahir dari aliansi Yahudi-Kristen. Asal-usul aliansi Yahudi-Kristen dapat ditelusuri jauh hingga ke Agustinus dari Hippo. Kontribusinya terhadap teologi dan kredo Kristen begitu besar dampaknya di dunia Kristen sehingga akhirnya membagi umat Kristen menjadi dua kelompok utama. Jika Augustinus tidak berkontribusi pada pengembangan doktrin Tritunggal dan doktrin Filioque, kita mungkin meragukan apakah Filioque akan menyebabkan umat Kristen Barat akhirnya memisahkan diri dari tubuh Ortodoks Kristen di Timur. Sementara Gereja Kristen Timur telah menetapkan kredo bahwa “Roh Kudus berasal dari Bapa”, Augustinus berkontribusi pada sebuah keyakinan menambahkan frasa “dan Putra” ke dalam kredo tersebut sebagai landasan Kristen. Inilah yang akhirnya menyebabkan mereka memisahkan diri dari umat Kristen Bizantium. Pemisahan atau perpecahan dramatis dunia Kristen ini dikenal sebagai ‘Skisma Besar’. Bukan hanya kredonya, tetapi bahkan filsafat politik peradaban Barat modern dapat ditelusuri kembali ke Agustinus. Benih yang ditanam oleh Agustinus, dapat kita katakan, berbuah dalam bentuk Perang Salib sebagai proyek politik pertama Kristen Barat hanya 42 tahun setelah perpecahan tersebut. Perang Salib dapat dikatakan sebagai proyek politik internasional pertama dunia Kristen Barat. Perang Salib yang pada awalnya tampak sebagai perang Kristen.

Kita dapat berargumen bahwa seandainya tidak ada perpecahan tersebut, umat Kristen Barat mungkin tidak akan pernah bersekutu dengan orang Yahudi.

Menurut pandangan pribadi kami, Perang Salib tidak akan bermula tanpa adanya Perpecahan Besar (Skisma Besar), dan Perpecahan Besar tidak akan terjadi tanpa kontribusi dari Augustinus terhadap ajaran Kristen. Doktrin-doktrin politik Augustinus saling terkait dengan ajaran Kristen yang telah ia susun dengan sangat teliti.

Realitas Perang Salib, meskipun kelihatannya bercorak Kekristenan, akhirnya terungkap ketika Jenderal Inggris, Tony Allenby, menyatakan setelah mengambil alih Palestina dari Kekaisaran Ottoman bahwa Perang Salib akhirnya telah selesai. Pernyataan ini datang hanya sebulan setelah Deklarasi Balfour. Sejatinya, dalam konteks sejarah, kedua deklarasi tersebut harus dilihat sebagai peristiwa yang terjadi bersamaan, yaitu secara simultan. Pada waktu itu, dunia seharusnya menyadari bahwa Perang Salib pada dasarnya merupakan gerakan Judeo-Kristen. Dengan kata lain, orang Yahudi telah terlibat dalam Perang Salib sejak awal, sejak Perpecahan Besar, atau mereka mulai memanfaatkan Perang Salib pada suatu waktu sampai mereka berhasil mendomplengnya. Namun, pada akhir Perang Salib, jelas bahwa tujuan membebaskan Palestina dari kekuasaan Muslim tidak ada hubungannya dengan nilai-nilai politik Kristen, melainkan merupakan upaya militer Kristen atas nama Yahudi dan untuk menciptakan tanah air bagi Yahudi di Palestina. Karena jika tidak, akan menjadi pertanyaan yang sah, mengapa Kristen hampir segera menyerahkan buah dari sesuatu yang mereka capai dalam 800 tahun kepada Yahudi? Sangat mungkin bahwa beberapa Yahudi telah memainkan peran penting sejak Perang Salib Pertama. Perang Salib pada dasarnya dipimpin oleh sebagian dunia Kristen (Barat) atas nama sebagian Yahudi (yang akhirnya mendirikan Gerakan Zionis). Butuh 800 tahun bagi kenyataan ini terungkap. Sebagaimana Perang Salib pada dasarnya bercorak Yahudi-Kristen, demikian pula Zionisme pada dasarnya bercorak Yahudi-Kristen. Tidaklah perlu memisahkan Zionisme Kristen dari Zionisme Yahudi.

Al-Quran telah memperingatkan tentang aliansi Yahudi-Kristen ini, di mana sebagian dari mereka menjadi teman dan sekutu bagi sebagian lainnya, artinya sebagian dari dunia Kristen akan bersekutu dengan sebagian dari dunia Yahudi.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani sebagai teman dan sekutu kalian, (karena mereka) adalah teman dan sekutu bagi satu sama lain; barangsiapa di antara kalian yang berpaling kepada mereka (dalam persahabatan dan persekutuan), maka ia termasuk dalam golongan mereka; Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Al-Qur’an menjelaskan dalam beberapa ayat lain bahwa larangan ini tidak berlaku bagi seluruh umat Yahudi dan seluruh umat Kristen.

Ungkapan modern dan signifikan yang pertama kali mengemukakan kebutuhan untuk menciptakan sebuah rumah bagi orang Yahudi di Palestina, datang dari seorang kepala negara Kristen Barat yang berkedok sebagai kaisar – Napoleon Bonaparte. Di Alexandria, Napoleon menyatakan pada tahun 1798, sepuluh tahun setelah orang Yahudi diberikan hak yang sama di Republik Prancis yang baru, bahwa telah tiba saatnya untuk mendirikan sebuah rumah politik bagi orang Yahudi di Palestina. Orang Kristen Eropa ini, dengan seragam militer republik barunya, hanyalah mengikuti jejak yang telah diletakkan pada tahun 1096, empat puluh dua tahun setelah Perpecahan Besar, sebagai Perang Salib pertama.

Seratus tahun setelah seruan Napoleon tentang perlunya mendirikan negara bagi orang Yahudi, jenazah Firaun ditemukan, dan tak lama setelah itu, gerakan Zionis—yang akar-akarnya telah muncul di Eropa seratus tahun sebelumnya—kini resmi didirikan. Mari kita tinjau hal ini dalam garis waktu.

430 M – Agustinus dari Hippo meninggal dunia. Pada saat kematiannya, ia telah meletakkan dasar-dasar doktrin Filioque yang menjadi faktor penting dalam memicu perpecahan antara Kristen Barat dan Kristen Bizantium (Timur).

1054 M – Perpecahan Besar memisahkan umat Kristen Barat dari umat Kristen Timur berdasarkan ajaran sesat yang mengklaim bahwa Roh Kudus berasal dari Sang Anak.

1096 M – Perang Salib Pertama sebagai proyek politik internasional pertama dunia Kristen Barat dimulai.

1688 – Revolusi Gemilang mengantarkan William III ke tampuk kekuasaan, yang kemudian membantu mengakui hak-hak Yahudi yang setara dengan warga Inggris. Hal ini mempercepat perkembangan pemukiman Yahudi dan status mereka di Britania Raya.

1789 – Revolusi Prancis menandai kebangkitan Yahudi ke status yang setara di Republik Prancis Pertama. Kini, Yahudi semakin diterima di Eropa dan semakin mapan.

1798 – Pernyataan Napoleon Bonaparte mengenai perlunya mendirikan negara bagi orang Yahudi di Palestina.

1820-an – Proyek pemukiman Yahudi pertama di Palestina dimulai.

1881 – Jenazah Firaun ditemukan oleh lembaga-lembaga pseudo-akademik dari aliansi Yahudi-Kristen yang sedang dibahas. Jenazah sang pembunuh dan penindas besar bangsa Yahudi dipamerkan kepada dunia. Hal ini menandai awal simpati internasional terhadap bangsa Yahudi.

1897 – Gerakan Zionis secara resmi didirikan melalui Kongres Zionis Pertama di Basel, Swiss.

November 1917 – Deklarasi Balfour menjanjikan hak atas tanah bagi orang Yahudi di Palestina.

Desember 1917 – Jenderal Allenby mengumumkan berakhirnya Perang Salib.

1918 – Palestina menjadi Mandat Britania.

1945 – Hitler dikalahkan. Seperti jasad Firaun, kekalahan Hitler dipandang sebagai akhir dari penindasan kedua terhadap orang Yahudi setelah Firaun. Hal ini memperoleh simpati internasional yang lebih besar dan dukungan politik bagi orang Yahudi serta bagi tanah air mereka, yang berarti negara politik, di Palestina.

1948 – Negara Israel didirikan. Misi hampir selesai.

1989 – 91 – Sebelum runtuhnya Uni Soviet, migrasi terakhir dan paling signifikan dari orang Yahudi ke Israel dari wilayah Uni Soviet dimulai dan berlanjut selama dua tahun. Kini misi telah selesai.

2001 – Migrasi orang Yahudi ke Israel berakhir.

Patut dicatat bahwa jumlah migrasi massal terbesar dari diaspora Yahudi ke Israel terjadi pada tiga kesempatan. Pertama, ketika jenazah Firaun ditemukan dan diumumkan ke seluruh dunia. Sekitar 35.000 orang Yahudi bermigrasi ke Palestina. Kedua, ketika Hitler dikalahkan. Sekitar 600.000 orang Yahudi bermigrasi ke negara Israel yang baru didirikan. Ketiga, ketika undang-undang imigrasi Uni Soviet dilonggarkan dan Uni Soviet berada di ambang kehancuran. Sekitar 750.000 orang Yahudi berimigrasi dari wilayah Uni Soviet ke Israel.

Ada sebuah pola yang dapat diamati bagi mereka yang memandang dari perspektif Eskatologi Islam. Pola ini terlihat sejak dua ratus tahun sebelum kedatangan Nabi Muhammad ﷺ hingga peristiwa-peristiwa terkini pada tahun 2023. Alur dan pola peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa tidak ada satupun dari peristiwa tersebut yang terjadi secara kebetulan atau tanpa sengaja.

Dalam terminologi eskatologi Islam, pendirian Negara Israel harus dianggap sebagai salah satu pencapaian paling signifikan dari Pax Americana. Kedua, upaya Inggris dan Amerika untuk membawa kembali orang Yahudi ke Tanah Suci setelah mereka diusir dari sana oleh Allah Yang Maha Tinggi sendiri, akhirnya terwujud 2000 tahun kemudian dengan runtuhnya Uni Soviet. Runtuhnya Uni Soviet mungkin merupakan pencapaian terbesar kedua dari Pax Americana. Kami mengidentifikasi mereka sebagai Yakjuj dan Makjuj yang membawa orang Yahudi kembali ke Tanah Suci 2000 tahun setelah mereka diusir oleh Allah.

Allah Yang Maha Tinggi telah mewahyukan dalam Al-Qur’an:

وَحَرَامٌ عَلَىٰ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا أَنَّهُمْ لَا يَرْجِعُونَ
حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ
“Sesungguhnya, Kami telah melarang penduduk kota yang telah Kami musnahkan agar mereka tidak kembali, Hingga ketika Yakjuj dan Makjuj telah dibebaskan dan mereka turun dari setiap ketinggian.”

Kota ini kami identifikasi sebagai Yerusalem. Yerusalem dihancurkan, artinya penduduk Yerusalem dihukum dengan kehancuran oleh kekuatan eksternal setelah mereka berusaha membunuh Al-Masih, Yesus putra Maryam alayhimassalam, dengan dalih menjatuhkan hukuman mati salib kepadanya. Setelah orang-orang Yahudi diusir dari Yerusalem, mereka tidak pernah dapat kembali untuk mengklaim Yerusalem sebagai milik mereka; Yerusalem yang sama di mana Nabi Daud dan Nabi Sulaiman alayhimassalam memerintah di negara Khilafah yang dianugerahkan oleh Allah, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Namun, dengan ayat Al-Qur’an di atas, tidaklah aneh bahwa orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan mengklaimnya sebagai milik mereka sendiri dengan mengenakan jubah Zionis 2000 tahun setelah mereka diusir. Mereka tidak kembali dengan usaha mereka sendiri. Peradaban Barat modern berperang selama berabad-abad untuk memfasilitasi kembalinya mereka dan akhirnya membawa mereka kembali dengan biaya mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang sama yang telah terpisah dari Kristen Bizantium. Dengan kata lain, mereka adalah orang-orang yang sama yang disebut dalam ayat Al-Qur’an ini sebagai Yakjuj dan Makjuj.

Di atas adalah latar belakang dari apa yang terjadi saat ini di Tanah Suci. Tidak mungkin memahami Zionisme tanpa pengetahuan latar belakang ini. Yakjuj dan Makjuj adalah aktor utama dalam peristiwa-peristiwa sejarah yang penting ini yang sedang berlangsung saat ini. Secara ringkas, kesimpulan terpenting yang dapat kita ambil dari peristiwa-peristiwa di atas adalah sebagai berikut:

  1. Tanpa Agustinus, dunia Kristen mungkin tidak akan terpecah menjadi dua dan peradaban Barat modern tidak akan pernah lahir.
  2. Dunia Kristen Ortodoks Timur sudah jelas terpisahkan dari Zionisme.
  3. Peradaban Barat modern tidak akan pernah lahir tanpa adanya Perpecahan (Skisma) Besar.
  4. Perang Salib adalah proyek politik internasional pertama dari peradaban Barat modern.
  5. Peradaban Barat modern pada dasarnya merupakan aliansi Yahudi-Kristen. Dunia Kristen Ortodoks Timur tidak pernah menjadi bagian dari aliansi Yahudi-Kristen tersebut.
  6. Britania Raya memimpin peradaban Barat modern dan proyek politik pertamanya, Perang Salib, hingga kesuksesan akhirnya, sekitar 800 tahun kemudian, yang memfasilitasi kelahiran Zionisme dan eksodus diaspora Yahudi ke Palestina.
  7. Amerika Serikat berhasil mendirikan Negara Israel dan mempersenjatai negara tersebut hingga menjadi kekuatan nuklir yang tidak terikat oleh hukum internasional. Status khusus dan kekebalan yang diberikan kepada Israel merupakan kesuksesan akhir dari tatanan dunia liberal internasional yang didirikan pada akhir Perang Dunia II.

Setelah Negara Israel didirikan pada tahun 1948, peristiwa paling penting berikutnya dalam sejarah Zionis Israel terjadi 75 tahun kemudian, yakni pada tanggal 8 Oktober 2023. Selama 75 tahun tersebut, Israel sedemikian rupa telah berkembang secara progresif menjadi apa yang telah ditakdirkan untuk terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi.

Mari kita lanjutkan dari perang yang dimulai pada tanggal 8 Oktober 2023.

Kami telah berargumen beberapa waktu sebelumnya, bahwa Israel tidak hanya memulai genosida di Gaza, tetapi juga perang di kawasan tersebut untuk mendirikan Israel Raya yang membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat. Kawasan ini adalah wilayah yang diklaim oleh Israel Zionis dengan menggunakan Alkitab sebagai pembenaran. Ketika mereka berbicara tentang negara politik Israel dari “sungai ke laut”, mereka bermaksud mencegah Tepi Barat dan Gaza memisahkan diri untuk membentuk negara Palestina, yang pada dasarnya merupakan ide politik liberal Amerika. Kami menyebutnya American Palestinianism. Perang yang dimulai pada 8 Oktober 2023 telah membuktikan bahwa kini tidak akan ada dua negara antara sungai ke laut. Rancangan untuk menenangkan populasi Arab yang marah dengan dua negara sekuler—satu Yahudi dan satu Arab—dari sungai ke laut, yang pada akhirnya berubah menjadi eksperimen politik solusi dua negara liberal Amerika, kini telah hancur dan dibuang ke tempat sampah. Sejak saat itu, Israel tidak akan lagi berbicara tentang sungai ke laut; mereka hanya akan berbicara tentang Nil ke Eufrat. Itulah Israel Raya yang sesungguhnya yang sedang diperjuangkan oleh peradaban Barat modern dan Zionis Israel mulai dari sekarang ini. Meskipun membutuhkan tujuh puluh lima tahun untuk mengambil segala sesuatu dari sungai hingga laut, kami tidak merasa akan membutuhkan waktu sebegitu lama untuk mengambil segala sesuatu lainnya dari Nil hingga Eufrat, atau menguasai sepenuhnya wilayah tersebut. Jika negara Israel tidak memperluas wilayahnya secara dramatis, seluruh wilayah akan berada di bawah kendali Israel kecil.

Mari kita tinjau apa yang telah diraih Israel selama satu tahun dan sebelas bulan terakhir ini.

  1. Seluruh wilayah dari sungai hingga laut kini berada di bawah kendali langsung Israel. Perlawanan Hamas dan kelompok pejuang sekutunya akan tetap tidak berarti apapun bahkan mungkin hingga terwujudnya Penaklukan Konstantinopel. Kini terserah pada Israel untuk merekonstruksi ulang wilayah tersebut sesuai dengan visi dan kebutuhannya. Hamas kini terkurung dalam wilayah yang sangat kecil dan tidak akan memiliki pengaruh apapun. Gaza telah menjadi tidak layak huni, dan Tepi Barat sedang dalam proses untuk diambil alih sepenuhnya oleh Israel.
  2. Solusi dua negara kini telah dimasukkan ke dalam tempat sampah. Meskipun seluruh dunia hanya memberikan dukungan verbal terhadap solusi dua negara, tidak ada aktor politik yang dapat mengambil tindakan signifikan untuk mengimplementasikan proses yang dapat mewujudkan solusi tersebut. Israel telah berhasil menutup semua pintu untuk kemungkinan tersebut.
  3. Hezbollah di Lebanon telah berhasil dibatasi dan dikendalikan secara ketat. Rute-rute yang menjadi sumber pasokan bagi Hamas dan Hezbollah telah diblokir, meskipun tidak sepenuhnya terputus. Hal ini tercapai melalui operasi perubahan rezim di Suriah. Tanpa kendali atas Suriah, saluran-saluran yang menjadi sumber pasokan bagi kelompok-kelompok perlawanan bersenjata melawan Israel tidak dapat berfungsi dengan baik.
  4. Rezim Assad telah berhasil digantikan dengan rezim yang tidak akan menjadi ancaman bagi Israel. Setelah operasi penggantian rezim di Suriah, Dataran Tinggi Golan dan beberapa ratus kilometer persegi di luar wilayah tersebut yang kini telah dikuasai dan berada di bawah kendali langsung Israel. Mengenai Dataran Tinggi Golan, menurut Netanyahu, wilayah tersebut akan berada di bawah kendali Israel selamanya. Assad merupakan ancaman bagi Israel karena ia tidak akan pernah menuruti tuntutan Turki maupun Israel. Assad adalah sekutu Iran. Ancaman tersebut kini telah berhasil dihilangkan. Pada saat Israel melakukan eksekusi massal terhadap pria, wanita, dan anak-anak yang tidak bersenjata dan tak bersalah di Gaza dan Tepi Barat, serta memperluas wilayahnya ke dalam wilayah Suriah, boleh jadi ada seorang agen intelijen (Trotsky) Turki yang bekerja untuk Israel secara terbuka, merencanakan dan melaksanakan seluruh operasi persiapan penggantian rezim di Suriah.
  5. Israel telah menghancurkan seluruh kemampuan militer Suriah di bawah pemerintahan Assad. Rezim yang baru tidak memiliki senjata, pesawat tempur, artileri, atau peralatan militer lainnya saat mereka mengambil alih kekuasaan sebagai penguasa baru Suriah. Tidak mengherankan jika mereka ingin membangun angkatan bersenjata baru dan membeli semua yang mereka butuhkan untuk membentuk pasukan bersenjata yang berfungsi penuh. Juga tidak mengherankan jika mereka kini pergi ke Israel untuk membahas hal ini. AS, Eropa, Turki, dan Qatar pun siap menyediakan segala sesuatu kepada rezim Suriah baru atas permintaan Israel. Suriah kini akan terjebak dalam berbagai hutang baru. Syarat-syaratnya akan ditentukan oleh Israel. Lahan yang telah siap untuk diperas dan diperah.
  6. Kolega-kolega Israel dari etnis Kurdi di Suriah utara telah diberikan otonomi meskipun mereka telah diintegrasikan ke dalam negara Suriah yang baru, sehingga jika diperlukan, Israel dapat memanfaatkan satu pihak melawan pihak lainnya.
  7. Panggung telah dipersiapkan untuk memulai proses peluncuran Koridor David. Jika hal ini terjadi, dan sangat mungkin hal itu akan terjadi, maka Israel akan memiliki akses langsung ke tepi timur Sungai Eufrat di Suriah. Tidak hanya itu, tetapi rute transportasi minyak juga dapat dibentuk dengan relatif mudah, baik dari Kirkuk atau Erbil yang dikuasai Kurdi ke Haifa. Kecurigaan kami adalah Israel akan berusaha memperluas kendali atas Sungai Eufrat hingga ke kota Qurnah di Irak, di mana Sungai Tigris bertemu dengan Sungai Eufrat. Hal ini akan memberikan Israel kendali atas Shatt al-Arab dan akan memberikan akses ke Teluk Persia.
  8. Musuh-musuh Israel yang tersisa saat ini hanyalah kelompok Houthi Yaman di selatan dan Iran di timur.
  9. Adapun wilayah Timur Tengah lainnya, mereka telah berhasil dijinakkan untuk bekerja sama dengan Israel melalui Dialog Mediterania dan Perjanjian Abraham, atau diancam dengan pembunuhan, terorisme, atau serangan udara. Karena pada realitasnya, negara-negara lain di Timur Tengah ini tidak memliki kekuatan militer yang mumpuni sama sekali untuk menjadi tandingan bagi Israel dan sekutu-sekutunya, yakni US dan NATO.

Berdasarkan logika di atas, target selanjutnya Israel adalah Yaman atau Iran. Yaman tidak sekuat Iran dan tidak begitu bahaya bagi Israel. Yaman lebih jauh jaraknya dari wilayah perencanaan Israel Raya, sementara Iran suatu hari nanti akan menjadi tetangga Israel Raya. Iran adalah satu-satunya musuh yang telah menjadi bagian dari rencana Israel untuk dieliminasi sejak setidaknya tahun 1990-an, jika tidak sejak 1979. Hal ini tentu saja menempatkan Iran di atas Yaman dalam daftar negara musuh Israel, setidaknya untuk fragmentasi, atau setidaknya ditaklukkan, dihancurkan, atau pergantian rezim. Israel oleh karena itu memilih untuk menangani Iran, yang menurut mereka adalah kepala ular yang menjadi sumber masalah bagi mereka.

Meskipun pembantaian Israel terhadap rakyat tak berdosa di Gaza dapat disebut sebagai ‘genosida’, menyebutnya demikian tidak hanya menyamarkan perang ekspansi Israel di kawasan tersebut, tetapi juga mereduksi perilaku agresif Israel hanya pada wilayah politiknya sendiri alih-alih seluruh kawasan, dan mereduksi solusi untuk perilaku Israel untuk mewujudkan suatu etnis Negara Palestina. ‘Genosida’ mereduksi masalah yang lebih besar menjadi konflik etnis lokal, apalagi konflik agama.

Perang hanyalah perpanjangan dari sebuah kebijakan dengan cara lain. Pepatah lama Clausewitz ini terus menggambarkan tindakan Israel dalam satu tahun dan sebelas bulan yang telah berlalu sejak 7 Oktober 2023. Kebijakan tersebut tentu saja merupakan upaya Israel untuk menguasai seluruh wilayah Timur Tengah dan kemudian memperluas batas negara untuk mewujudkan klaim akan Israel Raya, dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat. Tidak dapat dipungkiri bahwa Israel tidak hanya melakukan genosida; Israel sedang berperang melawan siapa pun yang menjadi penghalang bagi klaim religiusnya.

Sekarang telah jelas, pertama-tama, bahwa Israel memulai perang untuk mewujudkan kebijakan memaksa seluruh wilayah tunduk, terutama mereka yang menyebut diri mereka poros perlawanan. Mengalahkan Hamas dan Hezbollah menjadi alasan yang sempurna untuk menerapkan kebijakan tersebut secara agresif. Suriah kini diperkirakan akan menormalisasi hubungan dengan Israel dalam waktu dekat, jika tidak, akan terus mengalami fragmentasi. Mereka yang mengumandangkan takbir pada Desember 2024 setelah runtuhnya pemerintahan Assad, kini merasa malu dan tetap diam. Mereka mungkin bahkan dengan tanpa malu-malu terus membela rezim Suriah yang baru untuk menyembunyikan rasa malu mereka, sementara Suriah secara terbuka berupaya menormalisasi hubungan dengan Israel.

Kedua, telah jelas bahwa Israel telah menghancurkan tatanan dunia liberal internasional yang dibentuk oleh kekuatan Barat pada akhir Perang Dunia II. Israel telah menjadikan hukum internasional dan diplomasi tidak berarti. Israel tidak lagi mengakui kedaulatan negara-negara dan integritas teritorial, maupun hak asasi manusia. Israel telah melanggar segala hal yang diagung-agungkan dan diabadikan dalam Piagam PBB. Di balik semua ini, pendirian dan terbentuknya BRICS semakin memperkuat tren bahwa tatanan dunia internasional tidak lagi didasarkan pada nilai-nilai dan idealisme liberal Barat. Dan menambah garam pada luka, MAGA dan kemunduran petrodollar menyebabkan Amerika Serikat telah mundur dari keterlibatannya dalam urusan dunia. Singkatnya, Pax Americana telah berakhir dan Israel sedang bangkit untuk mengisi kekosongan adidaya setidaknya di wilayahnya sendiri. Tidak ada negara di dunia bisa dianggap sebagai satu-satunya pewaris Inggris dan Amerika, kecuali Israel.

Kembali ke musuh-musuh Israel, seperti yang diperkirakan, kampanye militer terhadap Iran dimulai segera setelah operasi penggantian rezim di Suriah. Tidak ada yang mengira Israel akan tiba-tiba memulai kampanye bom tersebut, dan begitu pula tidak ada yang mengira Israel akan menghentikan kampanye tersebut secara tiba-tiba dalam 12 hari. Trump menyebutnya sebagai “perang 12 hari,” dan tidak ada yang tahu mengapa dia mengatakan itu. Mungkin dia menyiratkan bahwa kali ini tidak akan seperti Perang Enam Hari, di mana meskipun Israel menang, mereka tetap harus mundur dan berdamai dengan dunia Arab, memenuhi tuntutan mereka, dan berkomitmen pada kompromi berdasarkan nilai-nilai liberal tatanan internasional. Harus diingat bahwa Trump lah yang pada masa jabatannya yang pertama, memindahkan kedutaan Amerika Serikat di Tel Aviv ke Yerusalem dan mengatakan bahwa Yerusalem seharusnya menjadi ibu kota baru Israel. Kini hal itu telah terwujud di mana Yerusalem telah menjadi ibu kota Israel.

Mengapa Israel memulai perang yang mereka tahu tidak bisa dimenangkan? Apakah Israel tidak mempelajari medan Iran? Apakah Israel tidak tahu bahwa Iran tidak memiliki senjata nuklir dan telah berjanji tidak akan memilikinya? Apakah Israel tidak memperhitungkan bahwa bom bunker buster Amerika tidak dapat menembus fasilitas nuklir bawah tanah Iran? Mengapa Israel tidak menargetkan pembangkit nuklir Bushehr yang penting bagi Iran? Apakah Israel tidak mengetahui kemampuan rudal Iran dan bahwa mereka akan membalas; bahwa rudal mereka memiliki kemampuan untuk menembus pertahanan udara Israel? Apakah Israel tidak siap untuk menampung penduduknya di tempat aman ketika rudal balasan Iran menyerang wilayahnya? Apakah Israel tidak tahu bahwa Tel Aviv dan Haifa akan terbakar? Apakah hal itu tidak menunjukkan bahwa mereka sudah siap untuk diserang oleh rudal? Apakah itu tidak berarti bahwa Israel tahu pertahanan udaranya tidak cukup memadai dan mampu melindungi diri dari serangan rudal Iran? Namun, mengapa mereka mengejar perang yang tujuannya mereka tahu tidak akan dapat terwujud? Apa tujuan perang Israel melawan Iran? Mengapa Israel menyembunyikan atau setidaknya menyamarkan tujuannya saat memulai serangan terhadap Iran? Mengapa Israel melakukan misi pemboman udara intensif selama dua belas hari hingga menit terakhir gencatan senjata yang disepakati, padahal mereka tahu dengan pasti bahwa pemboman tersebut tidak akan menghancurkan fasilitas nuklir Iran? Mengapa AS ikut serta dalam perang hanya untuk menjatuhkan enam bom penembus bunker di fasilitas yang salah, di mana uranium murni Iran telah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, lalu menyebutnya sebagai misi yang berhasil?

Singkatnya, mengapa Israel berpura-pura berperang dengan Iran? Jelas ada yang tidak beres dalam hal ini.

Tujuan utama yang dicapai Israel dalam perang 12 hari ini hanyalah pembunuhan terhadap tokoh-tokoh penting dalam kepemimpinan Iran. Namun, apakah Israel tidak menyadari bahwa mereka akan segera digantikan oleh orang lain di Iran? Satu-satunya langkah yang bisa diambil Israel dalam hal ini adalah operasi penggantian rezim. Namun, tampaknya Israel belum merencanakan operasi semacam itu seperti yang dilakukan di Suriah. Tidak ada Trotsky (agen intelejen) di Iran untuk melakukan persiapan awal. Bagaimana mungkin perubahan rezim bisa terwujudkan?

Israel tidak terbiasa memulai perang yang tampak seperti perang kilat dan kemudian mengakhirinya secara tiba-tiba seolah-olah telah salah menghitung hasilnya, terutama terhadap Iran, yang telah menjadi target Israel untuk dihancurkan atau dilumpuhkan sejak tahun 1990-an. Israel tidak terbiasa terlibat dalam kampanye militer yang kontraproduktif. Apa lagi yang bisa menjadi alasannya?

Kami menduga, dan Allah yang Maha Tahu, Israel berpura-pura berperang dengan Iran untuk melaksanakan kampanye udara cepat sambil mengorbankan keamanan rakyatnya sendiri agar dapat merancang rencana untuk menaklukkan Irak di masa depan. Singkatnya, itu adalah misi pengintaian untuk Irak di bawah kedok perang dengan Iran. Kami pun menduga, begitu intelijen Israel telah berhasil mengumpulkan seluruh informasi yang diperlukan untuk merancang rencana tersebut, mereka pun menyetujui gencatan senjata untuk menghentikan perang secara tiba-tiba.

Israel tampaknya kini memberikan sinyal akan mengambil langkah-langkah militer yang diperlukan untuk melindungi tiga rute menuju Souaida. Rute pertama, dari Israel melalui Quneitra dan kemudian melalui utara Daraa menuju Souaida. Rute kedua, dari Israel melalui Quneitra dan kemudian melalui selatan Daraa menuju Souaida. Rute ketiga, dari Yordania menuju Souaida. Setelah semua rute ini dilindungi oleh IDF dengan dalih menangani krisis kemanusiaan, tahap pertama dalam pembentukan Koridor David akan tercapai. Koridor David akan berakhir di tepi timur Sungai Eufrat di Suriah. Setelah itu, sangat mungkin Israel akan menargetkan Qurnah dan bagian barat Irak. Lagi pula, mereka hanya akan merasa puas jika mendapatkan semua target yang mereka inginkan.

Jika Zionis meyakini bahwa mereka dapat menguasai wilayah dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat, mereka pasti sudah menyadari bahwa Irak akan menjadi harta karun yang berharga bagi mereka.

Selama Pax Britannica, Britania Raya memiliki harta karun yang berharga. Selama Pax Americana, Amerika Serikat memiliki harta karun yang berharga. Harta karun Britania Raya adalah India, yang mereka sebut “mutiara di mahkota kekaisaran”, sedangkan harta karun Amerika Serikat adalah Arab Saudi, yang dengannya petrodollar dilahirkan. Tanpa Arab Saudi, Amerika Serikat tidak akan mampu mengendalikan sumber daya dan keuangan dunia dengan menciptakan permintaan yang tinggi secara artifisial terhadap dolar AS. Dengan penalaran logis, ketika Pax Judaica menggantikan Pax Americana, Israel juga akan memiliki harta karun, dan di wilayah luas dari Nil hingga Eufrat, tidak ada wilayah yang lebih layak menjadi harta karun Israel selain Irak. Apakah Israel akan berhasil mendapatkannya atau tidak, mereka pasti akan berusaha untuk menguasai Irak dan mempertaruhkan segalanya untuk melakukannya, atau setidaknya sebagian wilayah Irak yang akan memberikan Israel kendali atas sumber daya minyak dan air.

Dunia menyaksikan lahirnya Pax Britannica dalam bentuk kolonialisme. Paradox sejarah adalah bahwa perlawanan signifikan pertama terhadap tatanan dunia kolonial itu datang dari Amerika, yang merupakan sekutu Inggris. Amerika lah yang tidak hanya memfasilitasi keruntuhan Inggris, tetapi juga bertindak sebagai katalisator bagi Inggris untuk menyerahkan segalanya kepada Amerika. Pax Americana menggantikan Pax Britannica, dan tatanan dunia liberal demokratis menggantikan tatanan dunia kolonial. Kini, paradoks sejarah yang sedang terjadi adalah bahwa penolakan signifikan pertama terhadap tatanan dunia liberal itu datang dari Israel, yang sejatinya lahir melalui proses persalinan dari Inggris dan Amerika. Tentu saja, Negara Israel adalah anak dari aliansi Yahudi-Kristen yang dipimpin oleh Yakjuj dan Makjuj. Israel kini tidak hanya memfasilitasi keruntuhan Amerika Serikat tetapi juga bertindak sebagai katalisator utama bagi Amerika Serikat untuk menyerahkan kendali kepada Israel. Pax Judaica menggantikan Pax Americana, dan bentuk baru tatanan dunia otoriter dan monarkis sedang bangkit untuk menggantikan tatanan dunia demokratis dan liberal.

Menurut pandangan eskatologi Islam, Israel akan berjaya, meskipun durasi Pax Judaica akan lebih singkat dibandingkan dengan Pax Americana, sebagaimana durasi Pax Americana lebih singkat dibandingkan dengan Pax Britannica.

Jika Dajjal, atau Antikristus, menampakkan dirinya di Yerusalem dan menyatakan dirinya sebagai Mesias yang Dijanjikan, ia harus meyakinkan orang-orang Yahudi dan seluruh aliansi Yahudi-Kristen bahwa kerajaannya kini berada di dunia ini; bahwa ia adalah Raja orang-orang Yahudi; bahwa ia adalah pewaris sah singgasana Daud a.s, sehingga ia akan mengklaim sebagai keturunan dari Nabi Daud a.s. Sementara Daud a.s dan Mesias yang sejati mengutuk Bani Israel karena kejahatan-kejahatan mereka yang sangat mengerikan, Dajjal akan datang dengan klaim sebagai keturunan dari nabi Allah yang mulia namun tetap melanjutkan kejahatan dan dosa yang sama yang telah dilakukan oleh Bani Israel dalam sejarahnya. Seiring dengan antisipasi akan kedatangan bentuk pemerintahan semacam itu di Tanah Suci Yerusalem, hal ini menandakan bahwa tatanan dunia liberal akan secara bertahap digantikan oleh Pemerintahan Pribadi (yang berbasis monarki), yang akan memudahkan Dajjal sang penipu ulung untuk hadir dan mengklaim dirinya sebagai Mesias yang Dijanjikan.

Kabar gembira yang ditawarkan oleh Eskatologi Islam adalah bahwa tidak semua upaya tatanan dunia Barat yang dipimpin oleh Yakjuj dan Makjuj untuk menggantikan Pax Americana dengan Pax Judaica akan berhasil sepenuhnya. Namun, hal ini akan dibahas pada kesempatan lain, dan sebagian besar para pembelajar Eskatologi Islam tentu telah mengenali dan memahami akan berbagai kabar gembira yang telah dipaparkan dalam Al-Qur’an dari persepektif Eskatologi Islam. Insha Allah…


Penulis: Hasbullah Shafi’iy

Editorial dan terjemahan: Awaluddin Pappaseng Ribittara

Recommended Posts