
Dalam sebuah hadits qudsi yang dikenal luas, yang diriwayatkan oleh Abu Hurayra radiyallahu anhu, dan dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bersabda bahwa Allah Yang Maha Tinggi berfirman:
يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِيَ الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
“Anak Adam mengingkari Aku ketika ia menyalahkan Waktu, sebab Aku adalah Waktu (ad-Dahr); di tangan-Ku ada al-Amr (Perintah) yang dengannya Aku mengatur pergantian malam dan siang.”
Ad-Dahr – Waktu Absolut (Mutlak) – adalah salah satu nama Allah. Ad-Dahr adalah azal dan abad – kekekalan sebelum dan kekekalan setelah; ia adalah Sarmad atau Dā-im, dan khuld – masa kini yang kekal; ia adalah waqt, ajal, qadā/qadar, heen, ān; ia mencakup semua istilah yang terkait dengan zamān seperti ‘asr, shitā, sayf, sanah, ‘ām, shahr, jumu’ah, sabt, yaum, layl, nahār, dan sā’ah; ia adalah kesatuan waktu. Ini adalah waktu mutlak yang terwujud sebagai semua jenis waktu lainnya yang hanya memiliki keberadaan yang dirasakan. Ini adalah Momen yang membentuk Peristiwa. Waktu yang mendorong kita dalam sebuah perjalanan dan waktu sebagai momen bagi berbagai peristiwa terjadi. Inilah subjek kita.
Waktu dapat dipahami sebagai perjalanan atau pergerakan manusia dalam keberadaannya. Meskipun waktu dapat ditunda, namun pada umumnya, waktu tidak pernah berhenti sama sekali. Waktu sebaiknya dipahami sebagai pergerakan manusia melalui perjalanan kehidupannya. Segala sesuatunya berada dalam keadaan bergerak dan bahan bakarnya adalah waktu.
كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شأْنٍ
“…Setiap hari, Dia (Allah Yang Maha Tinggi) senantiasa sibuk dengan suatu urusan…“
Segala hal terus berubah dan beresonansi tanpa henti dan semuanya berasal dari dunia Sang Al-Amr.
ألا له الخلقُ والأمرُ تبارك اللهُ ربُّ العالمين
“Ingatlah! Hanya kepada-Nya lah proses penciptaan dan kuasa perintah. Maha Suci Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Pemelihara seluruh alam semesta.”
Di sepanjang kehidupan – tidak hanya di dunia ini, tetapi juga sebelum kita masuk ke rahim ibu kita, dan setelah kita meninggalkan dunia ini untuk masuk ke barzakh dan seterusnya – terdapat empat jenis Waktu yang terus bergerak, pemahaman akan hal ini sangat penting untuk memahami apa itu Eskatologi Islam. Keempat jenis Waktu ini terus bergerak dan relevan bagi setiap manusia yang berpikir. Ini berarti kita merupakan bagian dari proses penciptaan serta terlibat dalam dunia Al-Amr. Ketika perintah-Nya turun, segala sesuatu pun akan menaati-Nya, baik dengan rela maupun terpaksa. Peristiwa dalam pergerakan Waktu merupakan manifestasi dari Ketetapan Ilahi, dan segala sesuatu yang terlibat dalam peristiwa tersebut akan tunduk sepenuhnya pada Ketetapan Ilahi.
Pergerakan waktu pertama dan paling penting bagi kita dimulai ketika Allah Yang Maha Tinggi memerintahkan semua Arwāh untuk memasuki proses kehidupan di muka bumi. Dia, subhānahū wa ta’ālā, memerintahkan (terkait dengan peristiwa Awwal az-Zamān yang dijelaskan di awal Surah al-Baqarah dalam Al-Qur’an):
…اهبطوا منها جميعا…
“…Turunlah kalian semua…”
Perintah Ilahi ini ditetapkan setelah Allah Yang Maha Tinggi menerima taubat Nabi Adam ‘alayhissalām dan setelah Dia mengumpulkan seluruh umat manusia ketika seluruh umat manusia masih dalam manifestasi aslinya sebagai arwāh, atau ruh, yang merupakan esensi kehidupan yang pada akhirnya akan bermanifestasi di Bumi dalam wujud yang terbentuk dan terikat dalam ruang dan waktu. Ketika Allah Yang Maha Tinggi memanggil seluruh umat manusia untuk bersaksi atas pertanyaan “ألست بربكم” – Apakah Aku bukan Tuhanmu? – mereka menjawab, “Ya, kami bersaksi.” Setelah kesaksian itu, Allah Yang Maha Tinggi memerintahkan, “Turunlah kalian semua.” Sejak saat itu, setiap rūh yang akan bersemayam di Bumi sebagai manusia di waktu yang telah ditentukan, mulai menempuh perjalanannya. Hidup di Bumi adalah salah satu fase dari perjalanan tersebut. Seperti setiap perjalanan memiliki tujuan, perjalanan ini pun memiliki tujuan. Semua arwāh yang berada dalam perjalanan ini sebenarnya sedang dalam perjalanan kembali kepada Allah Yang Maha Tinggi. Al-Qur’ān telah mengingatkan manusia untuk mengatakan setiap kali musibah menimpanya:
إنا لله وإنا إليه راجعون
“…Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah tempat kami kembali.”
Terlihat dengan jelas dari ayat ini dan ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an bahwa kehadiran Ilahi itu sendiri adalah tujuan akhir. Itulah mengapa Allah Yang Maha Tinggi berfirman mengenai peristiwa kenaikan Nabi Isa ‘alayhissalam:
بَل رَّفَعَهُ ٱللَّهُ إِلَيْهِ
“…Sebaliknya, Allah telah mengangkatnya ke sisi-Nya…”
Sebuah ayat yang lebih jelas dalam Al-Qur’an berbunyi:
ولله ملك السموت والأرض والى الله المصير
“Kepada Allah lah kekuasaan atas seluruh samāwāt dan bumi, dan kepada Allah lah tempat kembali.”
Ini adalah jenis waktu pertama yang terus bergerak, yang harus disadari oleh setiap manusia yang berpikir. Menjaga kesadaran akan waktu ini, hidup dalam perjalanan ini, dan bertindak sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan perjalanan ini disebut al-Ihsān atau Tasawwuf. Ketika ia berada di Bumi, ia telah berada dalam perjuangannya untuk kembali.
Al-Ihsān atau Tasawwuf bukanlah konsep atau ide, atau dalam arti apa pun yang bersifat mistis. Ini adalah perbuatan dan tindakan yang selaras dengan perjalanan kembali kepada Yang Maha Kuasa. Kita harus kembali – tiba di tujuan – dalam keadaan yang sama sucinya seperti saat kita memulai perjalanan ini. Al-Ihsān dan Tasawwuf adalah satu dan perihal yang sama.
Perjalanan kembali ini dapat dibayangkan sebagai sebuah lingkaran. Kita memulai dari suatu titik dan kini sedang dalam perjalanan kembali ke titik yang sama. Titik yang sama di mana setiap rūh memulai perjalanannya setelah memberikan kesaksiannya, juga merupakan tujuan dari perjalanan tersebut.
Kemudian, ketika ruh termanifestasi sebagai tetesan sperma dan masuk ke dalam rahim ibu, maka dimulailah jenis waktu kedua yang bergerak. Menggunakan metafora jam, kita dapat mengatakan bahwa sementara jam pertama berdetak, kini dimulailah detak jam kedua sebagai sel telur yang telah dibuahi. Kini terdapat kesadaran ganda. Ada dua gerakan waktu yang saling tumpang tindih.
Rūh ini yang telah bemula manifestasinya sebagai manusia di Bumi, kini bergabung dengan kehidupan di Bumi sebagai manusia; ia bergabung dengan keberadaan manusia secara kolektif di Bumi. Ia bukan hanya individu, tetapi kini menjadi bagian dari kesatuan yang lebih besar.
Peristiwa awal dari jenis waktu kedua ini terjadi ketika Nabi Adam ‘alayhissalām pertama kali menginjakkan kaki di Bumi dalam wujud manusia; akhir dari waktu ini akan terjadi ketika Terompet ditiup dan Hari Kiamat tiba. Dengan kata lain, inilah perjalanan waktu yang kita definisikan sebagai sejarah manusia. Fase terakhir dari periode ini disebut Ākhir az-Zamān, secara harfiah – zaman terakhir dari seluruh zaman, dan Nabi yang diutus ke Ākhir az-Zamān dengan Kitab adalah Rasulullah Muhammad, sallallāhu ‘alayhi wa sallam. Salah satu sifatnya adalah sebagai Nabi Akhir Zaman, oleh karena itu Al-Qur’an yang dibawanya untuk umat manusia harus dipahami sebagai Kitab Akhir Zaman. Inilah sejarah yang wajib menjadi perhatian kita: masa lalu, masa kini, dan masa depan keberadaan keturunan Nabi Adam ‘alayhissalām di muka bumi.
Seseorang dapat memandang pergerakan sejarah ini sebagai garis lurus. Ketika setiap manusia dilahirkan dari sperma sang ayah yang membuahi rahim sang ibu, pada saat ini lah waktu pertama tersebut menjadi saling tumpang tindih dengan waktu kedua. Hal yang sama juga dapat diungkapkan dengan cara lain: perjalanan al-Ihsān bersatu dengan perjalanan ākhir az-zamān. Sebagaimana kita semua berada dalam perjalanan kembali ke tempat asal kita, kita kini juga telah memasuki fase terakhir dari perjalanan sejarah manusia di Bumi. Dengan kata lain, kita kini telah menjadi bagian dari sejarah manusia.
Namun, tidak ada satupun manusia yang hidup di Bumi dari awal hingga akhir dari periode waktu ini. Setiap manusia masuk dan keluar dari sejarah, dan hanya tinggal untuk waktu yang sangat singkat atau sebentar saja. Dengan demikian, setiap individu manusia memainkan perannya dalam keberadaan kolektif umat manusia di Bumi. Selama setiap manusia masih berada di Bumi, ia menjadi bagian dari periode waktu ini, dan oleh karena itu harus menyadari akan adanya dua gerakan waktu dalam kesadarannya.
Seiring dengan tindak tanduk kita yang sejalan dengan tuntutan perjalanan agung kita untuk kembali kepada Pangkuan Sang Ilahi, dan seiring dengan posisi kita di titik tertentu dalam sejarah kehadiran Adam di Bumi – dan bagi kita, ini jelas merujuk pada titik tertentu di akhir sejarah (akhir zaman) sejak Nabi terakhir telah datang ke Bumi dan telah pergi – kitapun diwajibkan untuk bertindak sesuai dengan apa yang dituntut oleh tantangan ākhir az-zamān. Pada titik ini, ketika kita bertindak dengan kesadaran akan dua pergerakan waktu, kita akan mengintegrasikan dua cabang pengetahuan: al-ihsān dan ‘ilmu ākhir az-zamān.
Meskipun kita dapat menempatkan posisi diri kita dalam garis waktu sejarah Adam di muka Bumi, kita tidak bisa begitu saja melupakan bahwa kita sudah berada dalam perjalanan yang dimulai sebelum Bumi menjadi realitas bagi kita, dan setelah Bumi menjadi tidak relevan bagi kita kecuali mungkin dalam beberapa situasi yang sangat langka. Oleh karena itu, Al-Ihsān dan ‘ilmu ākhir az-zamān tidak dapat dipisahkan. Bagi seorang manusia yang lahir di Bumi sebelum kedatangan Al-Masih dua ribu tahun yang lalu, hal ini dapat dilihat sebagai dua cabang pengetahuan yang tidak saling terkait secara langsung. Namun, setelah kedatangan Mesias yang dinantikan, dan terutama setelah utusan terakhir Allah, Nabi Muhammad ﷺ, keduanya menjadi tidak dapat dipisahkan. Jika seseorang sadar akan gerakan waktu pertama dan cabang pengetahuan yang sesuai, ia juga harus sadar akan gerakan waktu kedua dan cabang pengetahuan yang sesuai.
Namun, manusia tidak bisa lepas dan bebas dari kewajiban-kewajiban duniawinya. Baik sadar maupun tidak sadar akan dua gerakan waktu di atas, sudah ada gerakan waktu ketiga yang dapat kita sebut sebagai ‘waktu serial’. Saat ini, waktu serial juga dikenal sebagai ‘waktu mekanis,’ dan beberapa orang menganggapnya sebagai pencapaian karena telah berhasil mendefinisikannya secara kuantitatif. Meskipun beberapa orang mungkin berpikir bahwa tuntutan Teknik (seiring perkembangannya kini digelar sebagai teknologi) telah mendorong manusia untuk memekanisasi waktu serial. Kenyataannya waktu serial telah disalahgunakan dengan mengubahnya menjadi waktu mekanis. Bagi mereka yang menyadari bahwa waktu telah terkorupsi, mereka akan mengukur kesadaran waktu ini dengan cara yang lebih alami, jika boleh dikatakan demikian, mereka mungkin memilih untuk menyebutnya waktu matahari atau waktu bulan, yang masing-masing memiliki fungsi dan peranannya sendiri. Namun, apapun namanya, dalam konteks kita, keduanya sama saja, baik seseorang menyadari bahwa waktu tersebut telah dimekanisasi dan karenanya terkorupsi, maupun tidak, Matahari masih tetap terbit dan terbenam bagi setiap manusia yang sadar. Bulan tetap beredar dalam jalurnya. Ini adalah tentang pergantian siang dan malam, minggu, bulan, dan tahun kita, semuanya memiliki nama-nama yang berbeda namun tetap merujuk pada jalur waktu yang sama; ini adalah rutinitas kehidupan sehari-hari; ini adalah Masa Kini Pribadi kita, ini adalah ritual Alamiah. Dan pergantian musim juga merupakan bagian dari jalur waktu ini, sama seperti bulan dan tahun. Inilah gerakan waktu ketiga yang disebut sebagai ‘waktu serial.’
لا تبديل لخلق الله
“Tidak akan ada perubahan dalam ciptaan Allah,” tegas Al-Qur’an.
Begitu seorang manusia berada dalam Rahim (kandungan) sang ibunya, pergerakan siang dan malam, atau waktu serial, telah dimulai. Makanan dan minuman menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari. Ini mungkin satu-satunya pergerakan waktu yang sebagian besar umat manusia menganggapnya sebagai waktu. Kita dapat mengatakan bahwa di dalam gerakan waktu kedua – yang sebelumnya kita identifikasi sebagai Sejarah – kini lahir gerakan waktu ketiga, yakni ketika siang dan malam, minggu, bulan dan tahun, telah menjadi realitas bagi manusia, yang secara langsung berdampak pada dirinya. Inilah momentum di mana manusia tidak lagi bebas dari proses pergantian siang dan malam.
Cara hidup yang diberlakukan oleh pergerakan waktu ini terhadap kita tidak lain adalah apa yang yang telah diajarkan oleh pengetahuan Islam. Jika gaya hidup yang kita sesuaikan dengan kesadaran waktu ketiga ini berbeda dengan apa yang kita kenal sebagai Islam, maka artinya kita tidak mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan Al-Qur’an yang beliau bawa. Hal ini bisa berarti kita termasuk dalam agama lain atau kita tidak mengakui realitas lain di luar realitas dunia material dan duniawi ini, dan secara tepat, itu sendiri merupakan jenis agama lain, misalnya agama Kapitalisme. Orang-orang seperti itu percaya pada
شجرة الخلد وملك لا يبلى
“…pohon keabadian (kekekalan) dan kekuasaan yang tiada tertandingi. . .”
Bagi orang-orang seperti itu, tidak ada kemungkinan untuk mempertimbangkan realitas apa pun sebelum keberadaan kita di dunia ini, maupun dalam kehidupan setelah kematian. Hal ini jelas berarti mereka telah terjebak dalam “waktu saat ini dan di sini” semata, dan ketika kematian akhirnya menghampiri mereka, sudah terlambat untuk menghadapi realitas tersebut. Kematian memang merupakan momen yang paling pasti dari segala hal yang akan terjadi di masa depan bagi setiap individu yang berpikir.
Namun, ketika kita mencari petunjuk dari agama, dalam hal ini Islam, persepsi kita tentang realitas berubah, dan konsekuensinya, cara hidup kita pun berubah agar selaras dengan realitas yang kini kita anggap sebagai realitas kehidupan sehari-hari.
Halal dan haram yang terkait dengan tindakan dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari kita mulai berlaku. Tidak ada halal dan haram sebelum kita lahir dan tidak akan ada hal seperti itu setelah kita mati. Pengetahuan kita tentang apa itu Islam akan mendefinisikan kehidupan sehari-hari kita, seperti matahari yang terbit dan terbenam setiap hari. Gaya hidup bersiklus tertentu mempengaruhi kita. Sesuai dengan pergerakan rutin cahaya matahari, kita juga melakukan ibadah rutin kepada Yang Maha Kuasa. Kita menyebutnya shalat fardhu. Ketika tiba waktunya shalat Jumat sekali dalam seminggu, kita pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumat. Ketika tahun fiskal berakhir, dan jika kita memenuhi syarat, kita membayar zakat. Ketika bulan sabit Ramadan muncul, kita berpuasa sepanjang satu bulan lunar, setiap tahun dalam kehidupan dunia kita. Ketika waktu haji tiba, dan jika kita memenuhi syarat untuk menunaikan haji, kita pun melakukannya. Ketika bulan-bulan suci tertentu dalam setahun tiba, kita menahan diri dari perbuatan tertentu dan melakukan perbuatan-perbuatan lain yang dianjurkan untuk mensucikan bulan-bulan tersebut. Semua ini terjadi setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun, dalam siklus yang terus berulang. Inilah Islam kita, yang secara langsung terhubung dengan waktu serial kita, cara hidup kita, dan kehidupan sehari-hari kita. Hal ini terus berlanjut dalam siklusnya hingga kita meninggalkan dunia ini. Hal ini juga dengan jelas menunjukkan bahwa al-Islām adalah tentang tindakan atau aksi (perbuatan) yang lebih dari segalanya, meskipun tingkatan posisinya lebih rendah dibandingkan dengan al-Ihsān. Jika seseorang tidak melaksanakan ajaran al-Islām, atau jika ia tidak menyadari dan memahami perintah dan larangan-larangannya, jika ia tidak mampu membedakan mana yang baik, yang benar dan mana yang buruh dan yang salah, maka pada kenyataannya, ia bukanlah seorang Muslim, meskipun secara teknis ia masih memenuhi syarat untuk menjadi Muslim.
Rasulullah ﷺ bersabda,
عَنِ ابْنِ أَبِي أَوْفَى ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ خِيَارَ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ يُرَاعُونَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ وَالْأَظِلَّةَ لِذِكْرِ اللَّهِ
Abū Awfā berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang terbaik adalah mereka yang mengamati matahari, bulan, bintang-bintang, dan bayangan dengan seksama, dan menyadari bahwa semuanya telah diciptakan dengan tujuan untuk mengingat Allah (dan kemudian bertindak sesuai dengan hal tersebut).” [Dicatat dalam al-Mustadrak karya al-Hākim]
Ini adalah transisi kita dari sebatas menjadi Muslim menjadi seseorang yang Muhsin. Kita bertindak sesuai dengan al-Islām, dan kemudian dengan tekun melanjutkan untuk bertindak dan berperilaku sesuai dengan al-Ihsān.
Pada titik tertentu dalam kehidupan dan perbuatan (tindakan) kita di muka Bumi, tiga cabang ilmu yang berbeda bersatu menjadi satu, atau al-Ihsān, ‘ilmu ākhir az-zamān, dan al-Islām melebur menjadi satu, membimbing kita dalam perjalanan kita di jalur tiga pergerakan waktu yang berbeda.
Upaya untuk memahami waktu biologis merupakan salah satu fungsi intelektual yang pertama kali muncul, yang mendorong manusia untuk akhirnya mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kehidupan. Saat manusia menyaksikan kematian atau setidaknya mendengarnya di lingkungannya, ia mulai mempertanyakan tujuan hidupnya di Bumi. Inilah saat ketika manusia mulai berpikir. “Kapan giliran saya untuk mati?” Ingatan akan kematian memaksa manusia untuk mengajukan serangkaian pertanyaan yang tidak memiliki jawaban kecuali melalui Agama.
Pada tahap ini, saya ingin merekomendasikan esai Maulana Fazlur Rahman al-Ansari berjudul “Melalui Sains dan Filsafat Menuju Agama”, yang kini menjadi bagian dari volume pertama karya besarnya yang berjudul ‘Landasan Al-Qur’an dan Struktur Masyarakat Muslim’.
Jauh di lubuk kalbu yang terdalam, manusia tidak akan dapat menemukan apa pun kecuali keimanannya. Sains dan Filsafat menolak untuk membantunya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari hal itu. Di sinilah ia beralih kepada al-Īmān. Di mana Al-Īmān hanya bisa dimulai dengan mengingat kematian. Hal ini secara langsung bergantung pada waktu biologis. Manusia secara alami adalah makhluk yang lemah. Ia merasa lelah dan letih, dan membutuhkan tidur. Ia membutuhkan makanan dan air. Ia tidak dapat bertahan dari lapar dan haus dalam waktu yang lama. Ia menyadari bahwa tubuhnya tidak dapat hidup selamanya. Karena tanda-tanda kemunduran manusia yang ia saksikan dan alami setiap hari, ia menyadari pada suatu saat dalam hidupnya bahwa ia pun pada akhirnya harus mati dan meninggalkan dunia.
Tidak benar bahwa hanya orang-orang yang menua dan menjadi lemah serta rapuh yang lebih dekat dengan kematian. Kematian sama dekatnya bagi seorang pemuda seperti halnya dengan seorang yang telah tua. Meskipun tidak ada seorang pun yang dapat menyangkal bahwa peristiwa yang paling pasti dalam kehidupan adalah kematian, tidak ada pula yang dapat menyangkal bahwa kematian dapat datang kepada siapa saja dan kapan saja. Durasi waktu biologis oleh karena itu tidak dapat diketahui; Allah Yang Maha Tinggi telah menjadikannya sebagai sesuatu yang bersifat rahasia, kecuali bagi mereka yang Dia kehendaki untuk mengetahuinya. Durasi waktu biologis yang tidak diketahui ini menuntut manusia yang berakal untuk selalu mempersiapkan dirinya menghadapi kematian. Meskipun ada perhitungan atau kalkulasi harapan hidup dalam studi populasi, tidak ada yang dapat memastikan kelanjutan hidup saat malam tiba, dan sebaliknya yakni pada saat pagi telah tiba.
Jika kematian adalah peristiwa yang paling pasti dalam kenyataan duniawi kehidupan di Bumi, maka tentu saja harus ada jawaban untuk semua pertanyaan yang berkaitan dengan peristiwa kematian. Bagaimana mungkin ada jawaban untuk semua peristiwa yang tidak pasti dalam hidup, namun tidak ada jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan seputar peristiwa yang paling pasti dalam hidup? Tidak masuk akal secara logis bahwa peristiwa yang paling pasti dalam hidup tetap menjadi misteri bagi manusia. Hanya al-Īmān yang dapat memecahkan apa yang tampaknya menjadi misteri di awal pencarian manusia akan Kebenaran. Ketika manusia yang bertanya-tanya mulai menemukan jawaban yang meyakinkan tentang kematian dan kelanjutan kehidupan setelah kematian, ia mulai mengembangkan tujuan (hakekat) dalam kehidupannya. Jika tidak ada kelanjutan kehidupan setelah kematian, maka tidak ada tujuan dalam kehidupan di Bumi dan semua moralitas runtuh, namun manusia adalah makhluk yang bermoral. Dalam kesadaran akan waktu biologis, manusia benar-benar mulai memiliki iman. Inilah cabang ilmu pengetahuan yang disebut al-Īmān.
Al-Īmān adalah keyakinan terhadap yang gaib. Yang dimaksud dengan yang gaib adalah hal-hal yang tersembunyi dan tidak dapat dilihat. Mungkin akan tiba waktunya, sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan individu manusia, ketika tirai-tirai tersebut terangkat dan yang gaib menjadi terlihat. Pada saat itu, tidak ada lagi keyakinan, melainkan hanya kesaksian. Namun, harus ada langkah awal sebelum peristiwa penyingkapan tersebut terjadi, dan langkah awal itulah keyakinan terhadap yang gaib. Hal ini terkait dengan waktu biologis seseorang – kesadaran terakhir tentang waktu yang relevan dengan topik kita. Langkah awal yang mendasar ini merupakan bahan bakar utama bagi ketiga fase waktu lainnya.
Sekarang, pada awalnya mungkin terlihat bahwa waktu serial dan waktu biologis tampaknya sama. Untuk membedakan keduanya, kami mengatakan bahwa kesibukan manusia dengan kebutuhan sehari-hari seringkali mengalihkan perhatiannya dari kesadarannya akan kematian. Dengan kata lain, meskipun ia sadar bahwa waktu ketiga yakni waktu serial terus bergulir, ia cenderung melupakan bahwa ada waktu keempat yakni waktu biologis yang juga terus berjalan.
Bagi beberapa orang tertentu seperti As-hāb al-Kahf atau Para Pemuda Gua yang disebutkan dalam Al-Qur’an, sementara waktu ketiga terus berjalan bagi mereka, waktu keempat dihentikan oleh Allah sehingga mereka terbangun dari tidur mereka tiga ratus tahun kemudian. Dengan kata lain, meskipun tiga ratus tahun berlalu, mereka tidak menua secara biologis. Hal ini membuktikan bahwa ada perbedaan antara perjalanan waktu ketiga dan keempat. Dalam pengamatan sehari-hari, terkadang kita menemukan orang tua yang terlihat lebih muda dan memiliki kekuatan serta kebugaran fisik yang lebih baik daripada anak muda, atau sebaliknya, anak muda yang terlihat lebih tua dan memiliki kekuatan dan kemampuan yang lebih rendah daripada orang yang lebih tua.
Kita sekarang memiliki empat jenis waktu yang harus kita renungkan. Yang pertama adalah perjalanan besar kembali kepada Yang Maha Kuasa (Waktu Absolut). Yang kedua adalah masuknya manusia ke dunia untuk bergabung dengan sejarah Adam ‘alaihissalam di Bumi dan mewujudkan perannya serta posisinya di dalamnya dari Awal Zaman hingga di Akhir Zaman (Waktu Sejarah). Yang ketiga adalah kesadaran bahwa kehidupan sehari-harinya terus berjalan apa pun yang terjadi, dari pergantian siang dan malam, pergantian musim, peredaran bulan mengelilingi bumi, dan bahwa ia harus makan, minum, tidur, dan menafkahi keluarganya, sambil tetap berada dalam batas-batas (hudūd Allah) yang ditetapkan bagi dirinya antara yang halal dan yang haram (Waktu Serial). Yang terakhir adalah kesadaran yang dalam dan samar yang selalu ada di sekitarnya, mengingatkan dia akan kematian dan akhir dari terbit dan terbenamnya matahari baginya yang datang tiba-tiba tanpa peringatan, atau dengan kata lain, pergerakannya menuju kematiannya sendiri dari kehidupannya di Bumi (Waktu Biologis).
Pada titik ini, ketika manusia mengambil petunjuk dari empat cabang ilmu yang sesuai dengan kesadarannya akan empat gerakan dalam waktu – al-Ihsān, ‘Ilm ākhir az-zamān, al-Islām, dan al-Īmān – semuanya menyatu menjadi satu kesatuan bagi dirinya. Logika seorang Muslim menjadi tercerai-berai jika ia memisahkan ‘ilmu ākhir az-zamān’ dari ketiga cabang ilmu lainnya.
Inilah betapa pentingnya studi tentang Eskatologi Islam atau ‘ilmu ākhir az-zamān’.
Setelah memahami hal di atas, barulah kita dapat mencoba memahami cabang keilmuan Eskatologi Islam atau apa yang kita sebut ‘Ilmu ākhir az-zamān’. Dimana cabang keilmuan ini mencakup dua aspek yakni — pengetahuan eksternal yang diperoleh secara empiris — serta perjuangan spiritual yang mengarah pada pengetahuan yang dapat diterima secara internal, bersama dengan realisasi keempat waktu yang terus bergerak dan beresonansi dalam diri manusia, yang menuntutnya untuk bertindak, beraksi dan berperilaku di setiap saat dalam kehidupan kita di muka bumi ini.
Seorang manusia seperti itu disebut ‘Ibnul Waqt’, manusia yang hidup di masa kini, dan ia jelas berbeda dengan manusia yang terperangkap dalam “saat ini dan di sini”. Sebenarnya, ‘ilmu ākhir az-zamān’ pada dasarnya adalah ‘ilmu hādhaz zaman’ – keyakinan akan setiap peristiwa atau momen yang mencakup empat perjalanan waktu yang berbeda. Dia bukanlah orang yang mengatakan, “saat ini dan di sini adalah yang paling penting dari semuanya, oleh karena itu, mari kita makan, minum, dan bersenang-senang sepuas-puasnya, karena besok kita pasti akan mati”. Mereka bahkan menghiasinya dengan istilah “hidup ini hanya sekali saja (you only live once)”. Tidak, manusia yang kita sebut ‘ibnul waqt’ bukanlah manusia seperti itu.
Ketika Eskatologi Islam dipandang secara ilmiah dan akibatnya tidak mendorongnya untuk bertindak dengan sebagaimana mestinya, yaitu bertindak sesuai dengan panduan atau petunjuk Ilahi, maka hal itu bukanlah esensi sejati dari Eskatologi Islam. Kita harus membahas masalah pemikiran ilmiah terhadap cabang ilmu ini pada kesempatan lain. Dalam konteks ini, cukup dipahami bahwa penanganan ilmiah bahkan filosofis terhadap ilmu ini akan membuat seseorang fokus pada urutan peristiwa di masa depan maupun di masa lalu yang terputus dari tindakan di masa kini. Sangat penting untuk tidak mendekati cabang ilmu ini dengan cara akademis.
Sayangnya, sebagian besar studi saat ini dalam Eskatologi Islam hanya berfokus pada perspektif logis dari apa yang telah kita definisikan sejauh ini sebagai Sejarah, atau bentuk kedua dari waktu yang bergerak. Ini bukanlah makna sejati atau esensi dari Eskatologi Islam atau ‘Ilmu ākhir az-zamān’sebagaimana yang tersirat dari namanya, cabang keilmuan memerlukan pemahaman yang akurat tentang zamān, yang tentu saja sangat bergantung pada pemahaman yang akurat tentang ‘Waktu’. Dalam hal ini, kata zamān merujuk pada seluruh perjalanan dan pergerakan waktu seluruh umat manusia di muka bumi ini.
Ilmu Pengetahuan, yang tentunya berlandaskan pada Al-Qur’an, yang menyingkap alur tindakan pada fase terakhir perjalanan manusia di bumi ini yang dimulai dengan kedatangan Nabi Muhammad ﷺ bersama Al-Qur’an, disebut ‘ilmu ākhir az-zamān’ atau Eskatologi Islam. Ini mungkin terdengar seperti suatu hal yang mirip dengan al-Islām, al-Īmān, dan al-Ihsān, tetapi sebenarnya tidak, dengan cara yang lebih halus, dan dengan penelusuran yang lebih dalam, menjadi berbeda secara jelas dari ketiga hal tersebut, namun pada dasarnya keempatnya adalah satu dalam kesatuan yang utuh. Inilah yang disebut Tauhid, yaitu penyatuan dari berbagai hal yang berbeda, lebih dari satu, yang menjadi satu kesatuan. Seseorang yang memiliki Tauhid akan mengetahui cara menyatukan semuanya menjadi satu sehingga pada dasarnya mereka tidak lagi tampak berbeda. Perjalanannya dalam empat jalur pergerakan Waktu adalah perjalanan tunggal yang menyatu.
Penulis: Hasbullah Syafi’i
Editorial dan Terjemahan: Awaluddin Pappaseng Ribittara
Kesimpulan sementara kami dari artikel saudara Habullah di atas, bahwa ada empat pergerakan waktu yang terlihat berbeda namun tetap sama dan berada dalam satu kesatuan yang nyata. Dan membutuhkan empat kesadaran manusia akan cabang ilmu pengetahuan dari setiap jenis waktu tersebut, yang juga tampak berbeda, namun tetap sama dan berada dalam satu kesatuan keilmuan. Yakni:
- Waktu Abosulut (Mutlak) di mana al-ihsan sebagai cabang ilmu pengetahuannya,
- Waktu Sejarah Adam (dari Awal Zaman hingga Akhir Zaman) dimana ilmu Akhir Zaman (Eskatologi Islam sebagai cabang ilmu pengetahuannya,
- Waktu Serial di mana al-Islam sebagai cabang ilmu pengetahuaannya, dan
- Waktu Biologis di mana al-Iman sebagai cabang ilmu pengetahuannya.
Artikel di atas ini yang ditulis oleh salah satu asisten Maulana Imran Hosein yakni saudara Hasbullah Syafi’i, merupakan artikel tentang waktu yang direkomendasikan oleh Maulana Imran Husein untuk dipelajari, direnungi dan dipahami sebagai bagian dari proses pemahaman kita tentang Eskatologi Islam, dan juga mukadimah tentang Waktu yang menjadi bagian utama atau topik utama dalam tulisan Maulana Imran Hosein dalam buku terbarunya yang sedang beliau susun saat ini yang berjudul “Jejak Kaki Dajjal dalam Waktu”.


