Dzulkarnain dan Ya’juj Ma’juj

Kitab Al-Qur’an mengandung cerita sejarah yang sangat menakjubkan.  Allah Subhanahu Wata’ala berbicara tentang seorang pengembarang yang berjalan ke dua ujung daratan. Kaum Yahudi ingin mengetahui apakah orang yang berada di Arab yakni tidak lain adalah Rasulullah Muhammad Sallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang Nabi, memiliki pengetahuan tentang cerita tersebut. Yaitu cerita tentang pengembara yang berjalan di kedua ujung daratan. Karena hanya seorang Nabi sajalah yang memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Maka Allah Subhanahu Wata’ala menjabarkan cerita itu dalam surah Al-Kahfi.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya”.

Dzulkarnain adalah seseorang yang memiliki peranan yang berdampak pada dua alur sejarah peradaban manusia. “Qarni” bisa berarti tanduk atau zaman dalam bahasa Arab, tapi Al-Qur’an tidak pernah mengartikannya sebagai tanduk melainkan zaman. Jadi Dzulkarnain adalah seseorang yang memiliki pengaruh terhadap alur sejarah sebanyak dua kali. Dia juga adalah seorang yang beriman kepada Allah Subahanahu Wata’ala dan juga seseorang yang dianugerahi kekuatan/kekuasaan dari Allah. Dan dengan anugerah tersebut, dia dapat mewujudkan apapun yang diinginkannya.  Maka berhati-hatilah kamu militer Amerika, simaklah kisah ini dengan sebaik-baiknya, selama masih ada waktu yang tersisa.

Dzulkarnain berjalan ke arah matahari terbenam (barat) sampai akhirnya dia menemukan bentangan air dimana Al-Qur’an menyebutnya “aynun hamiah” yaitu bentangan air yang hitam dan keruh. Lalu dia berjalan ke ujung lainnya ke arah matahari terbit (timur) dan tentu saja dia menemukan bentangan air lainnya. Lalu dia berjalan ke arah yang ketiga yang membawanya ke ngarai dari dua buah pegunungan. Di daerah ngarai inilah dia menjumpai Ya’juj dan Ma’juj.

Hanya Nabiullah yang dapat mengetahui tentang Ya’juj dan Ma’juj. Saya pastikan pemerintah Malaysia atau Indonesia atau Turki tidak akan tahu Ya’juj dan Ma’juj.  Dewan keamanan PBB tidak bisa bercerita tentang Ya’juj dan Ma’juj. Tapi Al-Qur’an tentu saja bisa.

Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia biasa. Tapi mereka juga adalah manusia yang dianugerahi kekuatan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Kekuatan itu mereka gunakan untuk tujuan tertentu yaitu mereka gunakan untuk melakukan penindasan, sedangkan Dzulkarnain menggunakan kekuatannya untuk melawan dan menghukum para penindas. Jadi mereka (Dzulkarnain & Ya’juj Ma’juj) ini saling bertolak belakang.

Masyarakat di ngarai tersebut meminta bantuan kepada Dzulkarnain untuk melindungi mereka dari berbagai penindasan dan kekejian yang telah dilakukan oleh kaum Ya’juj dan Ma’juj yang sangat kuat tersebut. Maka Dzulkarnain a.s pun membangun dinding/benteng penghalang dari besi. Lalu dia (Dzulkarnain a.s) berkata,

“Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”. (Q.S Al-Kahfi;18 Ayat; 98)

Ketika tembok penghalang tersebut telah hancur maka Ya’juj dan Ma’juj pun akan terbebaskan, dan pada saat itu terjadi Rasulullah Muhammad Sallallaahu ‘alaihi wasallam berkata mengenai hal ini.

Saat rombongan pertama mereka (Ya’juj dan Ma’juj) melintas Laut Galilea, mereka akan meminum air dari laut tersebut. Dan ketika rombongan terakhir mereka melintas, mereka berkata, “dahulu pernah ada air di sini.”

Laut Galilea terletak di sebelah utara kota Jerusalem. Jika kita memahami sedikit tentang ilmu geografi, maka kita akan menemukan kesimpulan bahwa Ya’juj dan Ma’juj akan pergi menuju Jerusalem sebagai daerah tujuan mereka, dimana hadits menyebut Jerusalem sebagai Baitul Maqdis. Mereka pergi ke Jerusalem sebagai tujuan mereka dan dalam perjalanan menuju Jerusalem, mereka melintasi Laut Galilea yang menandakan mereka datang dari arah Utara.

Perhatikan map di bawah ini.

Sekarang kita menuju bagian utara dari Jerusalem untuk melihat dimana letak bentangan air. Ketika kita melihat di sebelah utara Jerusalem ini, hanya ada dua bentangan air yaitu Laut Mediterania dan Laut Hitam. Laut Mediterania tidak bisa dibilang sebagai “aynun hamiah” karena airnya yang sangat jernih tidak gelah dan keruh, dimana kita bisa melihat beberapa meter kedalamnya. Laut hitamlah yang lebih tepat dalam deskripsi Al-Qur’an di atas. Karena kondisi air Laut Hitam sama seperti yang Allah Subhanahu Wata’ala katakan yaitu “aynun hamiah” bentangan air yang gelap dan keruh sehingga sulit untuk melihat dasarnya.

Jadi ketika Dzulkarnain berjalan ke arah matahari terbenam (barat) sampai akhirnya dia menemukan bentangan air dimana Al-Qur’an menyebutnya “aynun hamiah,” maka yang dimaksud adalah tentu saja Laut Hitam pada map di atas. Kami yakin atas kesimpulan bahwa Dzulkarnain a.s pergi ke arah laut hitam dan sebaliknya ketika dia berjalan menuju arah matahari terbit (timur) maka sebaliknya dia akan pergi menju ke arah Laut Kaspia. Dan di antara laut hitam dan laut kaspia, terdapat jajaran pegunungan yang membentang dari satu laut ke laut lainnya. Tidak lain adalah pegunungan Kaukasus. Dimana di pegunungan tersebut hanya ada satu celah ngarai yang bernama Darial Gorge. Disutlah Nabi Dzulkarnain a.s membangun tembok penghalang dari Ya’juj dan Ma’juj yang pada akhirnya mampu menghalangi segala bentuk penindasan dan kekejian yang dilakukan oleh kaum Ya’juj dan Ma’juj. Dalam bahasa istilah permainan catur, Dzulakarnain telah meng-skak mat mereka (Ya’juj dan Ma’juj).

Kekuatan Dzulkarnain digunakan untuk menghukum penindas, sedang Ya’juj dan Ma’juj menggunakan kekuatannya untuk melakukan penindasan. Maka di tempat inilah (Darial Gorge), Dzulkarnain a.s meng-skak mat Ya’juj dan Ma’juj.

Di dalam Al-Qur’an, Allah Subahanahu Wata’ala menyebut Ya’juj dan Ma’juj ketika Allah mengatakan tentang sebuah kota dimana kota tersebut dihancurkan, penduduknya terusir dan mereka dilarang untuk kembali lagi dan terlarang untuk mengakui kepemilikan kota tersebut sampai pada hal pertama yaitu Ya’juj dan Majuj telah dilepaskan dan hal kedua yaitu mereka (Ya’juj dan Ma’juj) telah menyebar ke segala penjuru dunia dengan kekuatan mereka, tentu saja mereka dapat menguasai dan mengontrol dunia dalam tatanan dunia Ya’juj dan Ma’juj. Saat itu terjadi, maka kamu akan melihat penduduk yang telah terusir itu akan kembali ke kota tersebut dan mengklaim sebagai pemiliknya dengan berbagai bentuk tindakan penindasan, kekejaman dan kekejian yang mereka lakukan.

Kota manakah yang dimaksud oleh Allah Subhanahu Wata’ala?

Tidak lain adalah Jerusalem.

Maka ketika kamu melihat kaum Yahudi Israel bukan Yahudi Eropa dikembalikan ke tanah suci Jerusalem dari Yemen, Irak, Suriah, Mesir, Moroko dan dari seluruh dunia dimanapun mereka berada yang telah terpencar. Dan kamu lihat mereka akan dikembalikan ke tanah suci Jerusalem  untuk mengklaim sebagai pemiliknya, dan kamu melihat negara Israel telah berdiri di tanah suci Jerusalem, dan kamu melihat negara Israel semakin kokoh menjadi negara adidaya, maka kamu seharusnya mengetahui bahwa hal tersebut adalah hasil pekerjaan dari kaum Ya’juj dan Ma’juj.

Pada sekitar tahun 50 Hijriyah, Khalifah mengirim tim ekspedisi untuk mencari tembok yang telah dibina oleh Dzulkarnain a.s. Tim tersebut kembali dan mengatakan bahwa mereka menemukan tembok itu, namun tembok itu hanya menyisakan puing-puingnya saja. Jadi kalau kamu masih menunggu kemunculan Ya’juj dan Ma’juj suatu saat nanti di masa yang akan datang, maka teruslah menunggu. Karena tembok itu telah menjadi puing-puing, bahkan sahabat Rasulullah Sallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri bersaksi  bahwa mereka telah menemukan lokasinya namun tembok tersebut telah hancur, dimana lokasinya berada di celah ngarai di pegunungan Kaukasus. Maka saat kamu dengar kata ras kaukasia kulit putih, maka ada sesuatu yang tersembunyi mengenai ras tersebut. Ras kaukasia kulit putih (white caucasian).

Dengan berusaha untuk mempelajari dan memahami filosofi sejarah, geografi, sejarah dan perkembangan geopolitik serta sejarah dari sistem keuangan (ekonomi) internasional, maka dengan mudah kita akan menemukan pemahaman dari  rangkaian titik-titik kebenaran yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya sehingga mampu untuk menjadi sebuah rasi yang membentuk konfigurasi khusus dimana kita akan mampu melihat dan memahami apa-apa sebenarnya yang telah, sedang dan akan terjadi yang telah dijelaskan dan diceritakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam kitab suci Al-Qur’an.

Print Friendly, PDF & Email

Recommended Posts